Kamis, 23 Desember 2010

Birokrasi ? Perlukah?

"Dasar birokrat bodoh !" Siapa gerangan yang belum pernah melontarkan rasa kekesalan seperti itu? Kalau informasi yang kita butuhkan tak juga kita peroleh setelah di "ping - pong" dari meja seorang petugas ke meja petugas lain, kalau surat lamaran kita ditolak karena alasan teknis maka pada saat itu juga kita akan teringat kepada Birokrasi.

Birokrasi sebenarnya dibuat untuk membantu dan menangani tugas - tugas administratif dan meningkatkan efisiensi administrasi namun sebaliknya birokrasi justru menimbulkan ketidakefisienan. Selain diartikan sama dengan letidakefisienan dalam keadaan - keadaan tertentu diartikan pula sebagai efisiensi yang ketat. Kritik - kritik radikal yang dilontarkan kepada birokrasi di masa kini mengandung suatu unsur kebenaran, karena bentuk - bentuk organisasi yang birokratis adalah suatu alat yang efektif untuk membantu kelompok kuat mendominasi kelompok lain. 

Belajar memahami birokrasi dewasa ini punya arti penting dibandingkan denganmasa lalu. Hal ini dikarenakan birokrasi punya arti penting bagi demokrasi. Selain itu mempelajari demokrasi juga memberikan sumbangan tertentu bagi kemajuan pengetahuan sosiologi.

Tidak ada keraguan bahwa birokrasi kerapkali tidak efisien. Sebagai contoh: keharusan dalam mengisi formulir panjang yang mempertanyakan berbagai hal secara terperinci, termasuk data yang dianggap tidak berhubungan dengan masalah yang bersangkutan memang sangat menjengkelkan. Pada hakikatnya kita sebagai klien atau konsumen menginginkan pelayanan yang lebih efisien dan efektif. Tidak berbelit - belit.

Bapak birokrasi, Max Weber mengatakan baik di sektor publik maupun privat diperlukan perbedaan tingkat kedinasan atau wewenang. Hal ini dikarenakan, apabila dalam suatu organisasi tidak memiliki hierarkhi wewenang maka organisasi itu akan kacau. Mengapa? Manusia itu pada dasarnya mempunyai keinginan untuk selalu di atas ataupun sebaliknya keinginan untuk selalu di bawah (Mempunyai ego yang tinggi). Dengan adanya hierarkhi wewenang tersebut maka akan menciptakan keserasian kerja, keharmonisan dan rasionalitas.

"Birokrasi itu tidak mengenal belas kasihan. Tidak pula mengenal cinta kasih". Kalimat itulah yang terlontar dari mulut seorang Victor Thompson, tokoh literatur birokrasi. Dikatakan pula bahwa birokrasi itu bersifat "impersonal". Birokrasi memang tidak boleh menyangkutkan dengan masalag pribadi. Mungkin agak terlihat sedikit kejam. Namun lihat sisi baiknya. Adanya birokrasi yang impersonal dalam proses penyeleksian karyawan baru. Proses penyeleksian tersebut akan berjalan secara adil karena karyawan yang diterima tidak diterima berdasarkan status "punya koneksi" tetapi karena kemampuannya sendiri.

Birokrasi pun tampaknya sudah merasuk ke alam pikiran manusia bukan hanya berupa sistem saja. Ditinggalkannya sifat menghargai manusia secara utuh tanpa melihat orangnya dan diperagakan secara "memilih" menghargai orang lain. Menghargai orang lain dengan menekankan "siapa-nya" dan melupakan "apa-nya". Seseorang menghargai orang lain apabila telah diketahui identitasnya (jabatan yang tinggi, uang yang banyak), bukan menilai dari apa yang dikatakannya, bagaimana pemikirannya. Hal inilah yang ditakutkan dari birokrasi. Kita harus mampu memanfaatkan dan menggunakan konsep yang merupakan penemuan besar dari Max Weber di jalan yang semestinya.

Jadi menurut anda perlukah birokrasi ??

daftar pustaka
Thoha, Miftah. 1987. Perspektif Perilaku Birokrasi. Jakarta, CV Rajawali.
Blau, Peter M dan Meyer, Marshall W. 1987. Birokrasi Dalam Masyarakat Modern. Jakarta. UI-Press. 

1 komentar: